Cerita bersambung tentang wattpad kemarin. Jadi kultur budaya Jawa Tengah dan sekitarnya menjadi pilihan saya untuk membuat suatu rangkaian cerita. Penulis abal-abal, newbie, penulis kemarin sore, mungkin lebih tepat disandang oleh saya yang menganggap menulis sebagai hobi.
Kenapa saya memilih Jawa Tengah?
Saya tumbuh dari keluarga yang sebagian berasal dari provinsi tersebut. Memang sebagian besar asal keluarga saya dari Jawa Timur, tetapi beberapa kerabat masih keturunan drah Jawa Tengah. Setiap tahunnya saya dan keluarga pasti mudik ke beberapa kota seperti, Solo, Yogyakarta dan Semarang. Eyang putri dari pihak Mama masih bertempat tinggal di Solo, di Semarang tujuan kami adalah ziarah ke makam Eyang Kakung dan beberapa saudara, jadi bisa dibilang sanak saudara saya masih banyak yang tersebar di penjuru provinsi tersebut.
Entah kenapa saya jatuh cinta dengan budaya Jawa Tengah yang halus. Kemungkinan besar, karena saya sudah diperlihatkan kultur budaya tersebut sedari kecil, berkunjung ke Keraton, melihat tutur bicara penduduk asli sana dan rasanya...saya merasa tentram dan damai.
Anehnya hal tersebut tidak berlaku ketika saya mencoba berlibur di satu kota di Jawa Barat, saya merasa asing, saya merasa itu bukan 'rumah' saya. Seakan darah asli Jawa Tengah mengalir di dalam diri saya. Maka, saking cintanya saya dengan Jawa Tengah, muncullah ide untuk mengangkatnya ke dalam suatu cerita yang berjudul "Jawa Tengah dan Takdirku".
Dalam cerita tersebut terdapat dua peran penting, yakni satu perempuan dan satu pria. Keduanya terpaut usia yang lumayan jauh, 14 tahun. Dengan mencoba mengumpulkan kepingan ingatan mengenai Keraton yang terakhir kali saya kunjungi 3 tahun yang lalu, saya memberikan latar belakang tersebut dalam cerita ini. Konflik pasangan beda usia ini juga ditaksir akan menarik perhatian kaum remaja. Tenang..saya sebagai penulis belum bisa memikirkan 'adegan dewasa' seperti kebanyakkan cerita lain di wattpad, karena memang tidak ahli untuk menerka-nerka hal tersebut. Jadi semua kalangan bisa membaca.
Memulai cerita tersebut, bahkan saya tidak memperkenalkan diri, apalagi meminta-minta vote, comment dan lainnya. Karena memang sedari awal tulisan itu hanya saya persembahkan untuk imajinasi saya sendiri, agar tertuang, agar mereka memiliki kanvas yang nyata, bukan di angan-angan. Siapa yang menyangkan sedikit demi sedikit cerita ini mendapatkan vote, bahkan komentar dari pembaca yang selalu setia menanti update nya.
Hal tersebut semakin membuat saya sebagai penulis, gencar dan semangat membangun imajinasi lagi, tapi memang dasar, suatu ide tidak bisa dipaksakan apabila berharap cerita yang tidak monoton atau begitu-begitu saja, sempat saya cukup lama tidak bisa memberikan bagian cerita yang baru, sampai beberapa waktu yang lalu saya iseng mengetikkan nama akun saya di google searching.
Saya menemukan seseorang yang secara singkat mengulas cerita saya, dia berkata bahwa cerita saya pantas untuk dipromosikan. Wah, begitu terharunya saya melihat komentar tersebut, semakin kesini saya semakin tertarik untuk terus belajar dan belajar mengenai seni menulis.
Saya rasa, darah menulis mungkin sedikit ditularkan dari turun temurun Eyang-eyang saya. Salah satu Eyang jauh saya adalah seorang guru besar Sastra Inggris di Universitas Negeri di Surabaya, bahkan di usianya yang sudah kepala 8, sampai saat ini beliau masih rajin menulis, beliau pun telah menerbitkan 2 buku novel (diluar literatur pelajaran) dan sedang merampungkan buku ketiganya, biasanya saat beliau launching buku, beberapa mahasiswa memberinya support dengan mengadakan acara sederhana di Balai Pemuda, mudah-mudahan Eyang saya masih diberi sehat ya untuk dapat launching buku ketiganya...
Sekian cerita pendek dari saya hari ini, sampai bertemu di lain kesempatan.
Kalau ada waktu silahkan mampir di akun wattpad saya ya: elkoesoemo

0 komentar:
Posting Komentar