Selasa, 23 April 2019

Kota Madinah 2019

Siapa yang menolak rindu sama tempat ini? Hari pertama mendarat di kota ini sayang banget buat dilewatkan hanya untuk tidur setelah perjalanan udara yang kurang lebih memakan waktu 9-10 jam. Sejujurnya, ibadah di tanah suci yang kedua ini menurut saya lebih maksimal dibandingkan yang pertama kali.

Waktu ibadah pertama kali saya bersama Mama, mungkin karena bersama-sama orang tua jadi masih manja. Masih suka ngeluh, sedikit-sedikit ini-itu. Karena kali ini sama kakak, gengsi dong mau ngeluh-ngeluh ya kan, malahan setiap sholat pasti di dalam masjid, nggak di pelataran (kecuali sholat Jumat).

Gimana bisa sholat di dalam masjid terus-terusan? Ya itikaf, kalo nggak datang lebih awal.

Berhubung kali ini rombongan keluarga sama yang muda-muda aja, jadi bisa jalan-jalan sendiri kemana pun percaya diri gak mesti khawatir yang tua-tua bakal capek. Awalnya mau ke museum rumah Rasulullah, ternyata lagi dibongkar dan direnovasi, beralih kita ke museum Qur’an. Namanya The Holy Qur’an Madinatul-Munawarah.

Baru ini banget pergi kesana, pertama sampai di gerbang kayak langsung disambut super hangat sama yang jaga orang Arab, begitu masuk disambut lagi dengan baik sama guidenya yang ternyata dari Indo. Makin tertarik, ternyata sudah lebih dulu dimulai tournya karena ada rombongan jamaah travel lain, yang memandu juga masih muda, dari Indo juga, beruntung mungkin ya saya sekeluarga bisa pilih hari itu, gak tahu jadwal juga pas banget guidenya orang Indo jadi bisa dengerin dan gak roaming. Kok bisa ada orang Indo di museum Qur’an? Kurang tahu sih, cuma dari yang saya baca-baca di internet memang sebagian ada mahasiswa S2 dari Indo yang lagi belajar di Universitas Madinah, entah itu bagian dari pelajarannya atau gimana kurang paham, barangkali ada yang tahu atau yang memang berkecimpung langsung bisa komen di bawah ya :)).

Lalu dan kemudian, sekitar 15-20 menit disana, kita lanjut ke masjid Nabawi yang deket banget sama Kubah Hijau. Jadi hotel tempat kita tinggal itu ada di gate 16, dimana masjid asli Nabawi itu dimulai dari gate 1. Otomatis gak bisa lihat dari luar secara dekat Kubah Hijaunya dari arah hotel kita, karena sekalian jalan dari museum Qur’an akhirnya bisa foto dari dekat sama Kubah Hijau. Selama ini Kubah Hijaunya cuma bisa dilihat dari dalam Raudah aja, hehe.

Sejujurnya pengen punya pengalaman buat ibadah Umroh dulu baru ziarah ke Madinah, tapi kesempatan dua-duanya dapat yang ke Madinah dulu baru ke Mekkah. Nggak papa ya, disyukuri aja. Ibadah di Madinah itu lebih santai, lebih gak grusa-grusu, suasananya lebih ‘adem’. Karena kalau di Mekkah itu bener-bener orang-orang kayak berkompetisi banyak-banyakkan beribadah, memang itu tujuannya, karena sayang banget kan sampai di Mekkah itu harus semaksimal mungkin.

Harapan saya, semoga di tahun berikutnya saya bisa ibadah ke Mekkah dulu baru ke Madinah sama orang-orang tersayang juga.
Share:

Selasa, 01 Januari 2019

2.0.1.9

Happy new year teman-teman semua..
Nggak kerasa ya, cepet banget tahun baru lagi.

Apa sih yang saya harapkan di tahun ini?
Seperti kebanyakkan orang-orang kok, new year, new me.

Jujur, saya ingin kehidupan yang lebih baik dari kemarin-kemarin. Dimulai dari kepribadian saya yang kurang-kurang mungkin bisa dirubah lebih baik secara perlahan. Lingkungan saya, pekerjaan saya (yang tahun-tahun lalu menjadi bulanan saya untuk saya caci maki di ig stories--saking saya penatnya).

Ada banyakk hal yang harus saya rubah.

Tapi, saya merasa ada yang ganjil. Karena saya tahu pikiran saya mengharapkan banyak hal yang harus saya ubah, namun hati saya berpikir lain. Di awal tahun ini, saya lebih berperasaan "ah.. ya udah lah. Jalanin aja."

Mungkin kalau boleh dibilang, saya hendak mentargetkan sesuatu tetapi tidak seambisius biasanya. Kadang, keambisiusan saya merugikan. Jujur saja, ketika satu hal tidak berjalan mulus, saya mudah stress dan berpikir jangka panjang yang kurang berfaedah.

Makin kesini, makin sadar udah bukan anak-anak lagi, cara berpikir harus dirubah. Boleh kita fokus dengan target tapi jangan terlalu berambisi. Karena kalau tidak tepat sasaran lagi-lagi harus kecewa.

Entahlah.. intinya saya cuma mau berbagi kalau tahun 2019 saya punya target tapi saya rubah cara pandang saya juga cara kerja saya.

Do more.

Selamat berjuang, semoga yang dicita-citakan bisa tercapai tahun ini.


-El-
Share:

Minggu, 28 Oktober 2018

Cerita Lalu part. 1

"Sekitar setahun yang lalu waktu itu saya sedang menghabiskan liburan bersama keluarga di sebuah hotel dalam kota. Bersama keluarga kecil kakak saya beserta anak-anaknya kami pun bermalam. Hotel tersebut bisa dibilang saksi hidup saya dan dua saudara kandung saya tumbuh. Waktu kecil, orang tua seringkali mengajak anak-anaknya berlibur ke hotel dalam kota, salah satunya hotel itu, jadi tidak heran bila saya juga memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada hotel tersebut.

Singkat cerita, tidak seperti saat-saat sebelumnya, saya ini tipe orang yang malas mandi sebelum breakfast di hotel, hehe..tapi di hari itu entah kenapa saya mandi lebih dulu kemudian juga merias diri. Sesampainya di restoran, saya hanya makan seperti biasa, menyuapi dua keponakan yang sama-sama selalu ramai, menunggu antrian croissant favorit saya dan berlalu waktu sarapan. Saya masih duduk di suatu meja di restoran, sembari menggendong salah satu keponakan saya yang tertidur. Kemudian kedua mata saya terfokus pada satu orang yang masuk ke dalam resto. Tentu dari penampilannya dia seperti habis bangun tidur, hanya mengenakan kaos dan celana pendek gemas, tidak saya lupa dia juga berkacamata dengan rambut yang masih acak-acakan.

Aneh saya rasa, kenapa waktu itu fokus saya menuju pada orang tersebut yang tidak saya kenal. Tapi waktu terus berlalu dan tidak ada apapun yang terjadi.

Beberapa bulan kemudian, saya tengah mengantarkan orang tua perjalanan bisnis dengan menggunakan pesawat. Karena penerbangan pagi dan saya mengantarkan sampai bandara saja, saya memutuskan tidak mandi dan hanya berganti baju. Saya menunggu di dalam bandara sampai orang tua saya masuk ke counter check in. Sambil berlalu saya duduk di tempat yang disediakan di dalam bandara. Lagi-lagi mata saya terfokus pada seseorang yang tengah terburu-buru, sambil menarik koper silvernya, mengenakan jaket kulit berwarna hitam dan sepatu nik* hitamnya Ia berjalan menuju salah satu counter check in khusus. Ternyata seseorang itu adalah orang yang sama saat saya melihatnya di hotel kala itu. Perbedaan yang menyolok adalah tampilannya kala itu rapi, sedangkan saya kebalikannya pakaian seadanya dan belum mandi. Takdir dan waktu terkadang menggelikan dengan menyajikan kisah seperti ini. Tapi waktu terus berlalu dan tidak ada apapun yang terjadi.."

-unknown-
Share:

Jumat, 26 Oktober 2018

Menghadapi Ujian dan Kesementaraan Dunia.

Dunia memang hanya sementara. Hal-hal yang ada di dalamnya pun demikian. Banyak hal yang membuat saya termenung, terjadi dalam 2 tahun belakangan ini.

Manusia. Menjadi seorang manusia adalah anugrah, karena dibekali akal sehat dan termasuk golongan tertinggi yang diciptakan Allah untuk menyempurnakan isi Bumi. Tapi ingat, semua ini hanya sementara.

Belakangan saya diberi ujian yang amat berat untuk saya tanggung sendirian. Dan ujian-ujian ini bermunculan selama 2 tahun. Kenapa saya mengatakan sendirian? Karena saya memang benar-benar merasa sendiri. Keluarga yang tadinya sangat saya percaya, pada akhirnya membuka mata saya bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa dipercaya. Karena harafianya kita memang tidak boleh mempercayai siapapun selain Allah.

Saya sadar, ujian-ujian ini bermunculan tiada henti untuk memperbaiki karakter diri saya. Bagaimana saya menghadapinya sendirian, bagaimana jalan keluarnya, bagaimana saya mengambil keputusan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Mungkin alam semesta mulai ingin saya bergerak dari zona nyaman.

Ujian-ujian yang saya hadapi tidak semuanya saya selesaikan dengan baik-baik. Mengingat karakter saya yang keras kepala, semaunya sendiri dan susah mengambil keputusan sendiri, semakin membuat keadaan runyam.

Saya sendiri. Saya yang sekarang tidak seperti dulu, punya banyak teman untuk berbagi cerita, punya orang tua yang tadinya saya pikir bisa dipercaya nyatanya tidak 100% demikian. Saya bukannya mengajarkan untuk jangan percaya kepada orang tua, hanya saja sebagai manusia, setidaknya kita harus punya nyali untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan.

Di tengah huru-hara tekanan batin dan pikiran ini, kemudian saya teringat. Saya lahir sendirian, hidup di dunia ini sendirian karena yang lain hanya singgah, mati pun saya sendirian. Mungkin ada maksud di balik semua ini, bahwa saya harus mandiri, lebih mandiri lagi dibandingkan sekarang. Tidak menggantungkan nasib pada orang lain, sekalipun itu orang tua saya sendiri.

Percaya tidak percaya, saya sampai ingin sekali pergi ke psikiater. Saya ingin bertukar pikiran, saya ingin menceritakan semua yang saya rasakan dan saya butuh solusi dari kacamata orang lain. Saya pikir lagi, Allah tidak akan memberikan ujian ini selain Allah percaya saya bisa menghadapi dan melewatinya. Saya yakin, ujian-ujian ini hanya sementara dan pasti akan ada ujungnya. Meskipun sementara itu memakan waktu bertahun-tahun, semoga Allah masih tetap setia menggenggam jiwa saya untuk bisa tetap kuat dan terus menaruh percaya padaNya, sampai pelangi kembali muncul dalam kehidupan saya..
Share:

Jumat, 22 Juni 2018

Jadi, kita bertemu kembali?

"Cukup susah aku mengingatmu. Karena kamu yang tiba-tiba datang sesuka hatimu, dimulai saat pertama kalinya kamu muncul di mimpiku.

Aku kira kamu adalah pengharapan besarku selama ini. Karena kemunculanmu itu membuatku mengerti sesosok makhluk yang kusebut selalu di setiap doaku.

Tahun demi tahun, kamu memang tidak melulu datang 'mengunjungi'ku. Ada kalanya disaat aku melamun sampai sesaat setelah aku mengadu padaNya.

Malam ini kamu kembali menyapaku. Datang dengan kharismamu, semakin ingin membuatku meminta padaNya agar bisa dipertemukan denganmu lebih sering.

Tepat pukul 00.00 kamu kembali menyapaku.

Semoga memang ini maksudNya mempertemukanku kembali denganmu, supaya aku tidak bosan terus-menerus 'merengek' padaNya untuk bisa dipertemukan lagi denganmu.

Bukan hanya dalam pikiran, mimpi dan lamunan, tapi juga di dunia nyata.."

Share:

Selasa, 15 Mei 2018

Menulis Itu Susah.

Dulu di awal, saya pernah menjadi sebagian dari mereka yang menganggap bahwa menulis itu mudah. Kira-kira dari bangku sekolah dasar, saya sudah suka yang namanya membaca dan menulis (terutama menulis ya.) Karena dulu tujuannya untuk menulis nggak ngerti untuk siapa, akhirnya ya semacam diary lah.

Sampai suatu saat saking imajinatifnya saya, saya bikin surat, teruntuk suami di masa datang dan surat itu disimpan sama Eyang Kakung di Malang sampai detik ini. Katanya mau dikasih langsung sama suami saya nanti, wkwk.

Skip.

Lanjut sampai sekarang, diwadahi aplikasi wattpad, jadi tahu susahnya menulis. Dari masalah typo, bahasa, EYD, sampai ke permintaan untuk bisa terus update.

Dudu, jangan ditanya, udah sering dikomentarin pembaca supaya kalau nulis kudu banyak, kudu sering update, pokoknya semaunya pembaca lah.

Waktu itu pernah sekilas baca bio dari penulis lain yang bilang kira-kira begini: saya nulis bukan untuk memuaskan pembaca kok, senang ya baca, gak suka ya tinggalin.

Itu sih prinsip saya dari awal terjun di wattpad. Jangankan komentar, vote aja saya nggak berharap kok bakalan ada yang ngevote, eh sekarang followers udah 14K aja hehe, alhamdulillah.

Saat penulis idenya lagi buntu itu memang yang paling susah. Ternyata cari ide itu memang harus keluar kandang dulu, pergi keluar kota 3 hari, udah muncul aja cerita baru. Langsung dua pula.

Buat yang suka nongkrong di wattpad saya, siap-siap ya..
Share:

Minggu, 17 Desember 2017

Zaman Now

Di zaman now, kalian udah ngerasain perubahan yang gimana sih dibandingkan zaman dulu?

Contoh gampangnya, kalau dulu anak-anak SD mainannya mainan tradisional, zaman sekarang mainannya gadget.Tapi jangan keburu negthink dulu lah.. justru di zaman sekarang apa-apa mudah, gampang diakses.

Contoh lagi nih, ada aplikasi ojek online yang bisa dijangkau kemanapun dan dimanapun. Coba ya dulu zaman kuliah udah ada, gak perlu deh cari-cari tebengan temen hahaha.

Kenyataannya gak cuma satu-dua hal yang saya amati berubah. Perilaku manusianya pun makin berubah drastis. Tinggal kita pinter-pinternya aja menyikapi sih.

Dulu ya, orang kalau belum kenal deket itu pasti mau basa-basi kan suka sungkan, karena ngerasa gak kenal nih. Justru sekarang, orang yang gak kenal deket banget tapi BERASA kenal—padahal kita gak ngerasa yah—makin menjadi.

Waktu itu, saya sempat pelatihan dikirim sama kantor, yang kebetulan pesertanya bapak-bapak dan ibu-ibu, saya termuda disana. Saya berkesempatan satu kamar dengan seorang ibu dosen yang juga pengusaha.

For me, untuk kenal menjadi dekat itu butuh waktu ya. Karena saya ini introvert yang paling anti basa-basi jadi biasanya kalau udah kenal say hi biasa, namamu siapa namaku siapa, ya udah.. kelar. Waktu itu pelatihan berlangsung satu minggu penuh, saya merasa gak kenal terlalu baik dengan ibu tersebut untuk menceritakan hal pribadi.

Karena saya masih menjaga attitude, berusaha bersikap sopan, akhirnya saya harus membohongi diri sendiri, mencoba tertawa dengan luwes, menjawab pertanyaan ibu tersebut dengan sabar—kapan selesainya—dan lain-lain. Honestly, kalau pertanyaannya tidak seputar pribadi, saya akan menjawab dengan lantang. Tapi kalau pertanyaan pribadi dari orang yang tidak terlalu kenal, who r u?

Cerita lain lagi, kali ini sama mbak-mbak di salah satu bank. Karena saking seringnya transaksi ya, bahkan Bapak saya pun kenal karena sering minta tolong antrian dsb. Ya..bisa dibilang sudah familiar dan cukup akrab. Tapi, tidak dalam tahap sedekat itu untuk bertanya pertanyaan pribadi, seperti:

“Kapan menikah?”, “Calonnya orang mana?”

For God sake. Bahkan orang tua saya yang setiap hari dirumah ketemu, nggak pernah nanya hal begitu. Karena apa? Karena menghargai pribadi saya!

Saya suka heran sama orang-orang yang seneng kepo pribadi orang lain. Kenapa sih? Seperti hidup orang lain itu menarik banget dari hidup sendiri buat dibicarain? Why oh why..

Hmm.. butuh riset gak? Hahaha

Sabar aja wis mbak.. magic yang harus saya ucap di dalam hati.

Kadang gini yah..kita gak ngerti lho sama apa yang bakal terjadi 3 bulan ke depan.

We’ll see..
Share:

Sabtu, 07 Oktober 2017

Bacaan Wattpad (bagian 1)

Ngeblog itu kalau nggak niat ya nggak bakal menghasilkan..

Sama kayak nulis wattpad sih, bagi saya.. haha

Kemarin, update 2 cerita yang sudah terabaikan sekian lama. Banyak komentar begini:

Sampai lupa ceritanya gimana..

Ngomongin masalah lupa nggaknya, gimana kalau itu jadi daya jual cerita dari saya? Anggep aja, dengan lupa ceritanya saking lama gak update, ya baca dari awal hehehe..

Anyway, kalau ada yang baca wattpad, coba deh baca cerita Putri Mahkota by Anthea Gillian kalau gak salah..

Cerita ini jujur aja membuat tingkat kedewasaan saya meningkat beberapa level. Bukan karena konten dewasanya, justru lebih kepada sikap dari dua pemeran utama dalam novel tersebut.

Pertama baca buku ini, saya langsung bisa mengambil alih peran pemeran wanitanya. Aneh kan? Merasa terhanyut waktu jadi Kaira..

Gani? Saya merasa Gani sebegitu dekatnya pada saya. Latar belakang ceritanya tentang Jawa Tengah, menjadi poin tambahan bagi saya.

Age gap? It's so me..

Tentang bagaimana dewasanya Gani, tapi juga bisa bertingkah anak kecil akrena cemburu di usianya yang ke 39 tahun. Dimana Kai begitu dewasa menghadapi Gani, padahal usia mereka terpaut 12 tahun. 

Ngerasa Kai ini.. saya banget di kehidupan sebelum bertemu Gani.

Di cerita ini gak tahu kenapa sangat mengajarkan saya tentang apa itu komitmen.

Membicarakan komitmen, mungkin termasuk hal yang sensitif bagi saya, secara pernah ada orang di masa lalu yang mengatakan bahwa saya ini tipe orang yang tidak akan pernah mengerti apa yang namanya komitmen.

Oke. Mungkin saya sudah melupakan sakit hati dibicarakan demikian, tapi saya tidak akan pernah lupa..

Segitu aja ya.. silahkan baca kalau penasaran.

Ps: username saya ganti (at)elkusuma.. kalau luang, monggo dibaca-baca cerita saua.
Share:

Selasa, 26 September 2017

Bacaan Bermanfaat (part 1)

Akhirnya coret-coret blog lagi setelah sekian lama..

Judul kali ini tentang 'Bacaan Bermanfaat', yang secara kebetulan disampaikan oleh saya yang notabennya bukan orang yang rajin baca. Suka sih..saya suka baca, tapi tulisan-tulisan tertentu yang memang menarik menurut saya ya.

Dalam sehari, sebisa mungkin saya sempatkan baca koran, entah cuma baca headline nya sekilas. Menurut saya yang pemalas kalo disuruh baca ini, baca itu bisa bikin kaya bener memang. Kaya wawasan pastinya. Tapi sayang ya, karena sekarang memang jaman udah canggih, apa-apa internet, malah orang-orang lebih peduli sama berita-berita yang beberapa kebanyakkan gak jelas asal-usulnya alias berita hoax yang gak bisa dipertanggungjawabkan.

Gini ya men-temen.. mending baca yang pasti-pasti aja gitu lho. Posisikan diri kita kembali ke jaman belum ada yang namanya internet. Tuh? Kita dulu pegang apa kalo gak cuma koran, majalah?

Jaman saya SD saya bacaannya komik (yaa, meskipun bukan buku yang banyak tulisannya, seenggaknya baca buku :p) Mama saya setiap akhir minggu selalu bawa majalah anak-anak, mulai majalah bobo, bocil. Beranjak SMP, suka baca majalah Gadis.. terus kalo lagi rajin, suka bikin kliping dari guntingan-guntingan berita yang ada di majalah itu. Bikin semacam mading mini di buku agenda punya sendiri. (Kangen juga ya..)

SMA mulai suka baca novel. Sebenernya dari SMP udah suka bacaan teenlit, tapi beranjak gede lebih suka bacaan macem Harry Potter sama Chicken Soup. Paling inher banget pas beli buku HarPot yang ke 5, itu buku setebel itu habis cuma sehari hahaha. Saking senengnya. Sampai dikira saya ini baca buku apaan serius amat, coba baca buku pelajaran kayak gitu juga ya :')

Tapi gini..membiasakan diri untuk membaca itu sulit, jadi menurut saya, selama ada bahan bacaan apapun kesukaan kita selain buku pelajaran, udaah lahap aja.

Minggu ini saya punya bacaan favorit.. dan ini buku yang saya PO pertama kalinya dalam hidup, karena saya bukan termasuk orang penyabar yang menunggu bahan bacaan dimana di toko buku sebenernya udah ada tinggal dateng-beli-terus baca. Saking saya mengidolakan si author ini, pengen lah ikutan POnya.

Rentang Kisah by Gita Savitri.

Mungkin juga ini buku pertama yang saya beli tentang biografi seseorang. Sebenernya bukan biografi banget sih, lebih tentang perjalanan hidup aja, yang manaaaaaaaa....secara kebetulan yang teramat hampir semua hahah, saya pun mengalami hal yang dialami Gita.

Banyak hal yang saya pelajari di dalam buku ini adalah tentang bagaimana Gita ini bereaksi, menanggapi, apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Jujur aja, meskipun saya lebih tua dari Gita, tetapi saya justru banyak mengerti dari apa yang udah Gita sharing dari buku tersebut.

Saking cocoknya saya dengan buku ini, saya akan menjadikannya sebagai reminder to myself. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Gita pada bukunya.

Banyak poin dari saya yang juga dialami Gita..

Setiap hari ada aja yang bisa bikin Ibu memarahiku. Entah karena nggak mengangkat telepon, telat bangun pagi untuk salat subuh dan siap-siap sekolah, ataupun membuatnya lama menunggu di depan sekolah karena aku nggak langsung keluar saat bel pulang....-- hal itu juga terjadi sama saya, hanya saja itu bukan Mama saya, tapi Papa.

Hal-hal kayak gitu bikin Ibu menjadi sosok yang aku takuti, bukan hormati--Ini juga saya rasakan..

Sebenarnya bisa aja aku yakin dengan pilihan sendiri dan nggak terlalu mendengarkan keinginan Ibuku. Namun, aku juga percaya kalau ridho Allah adalah ridho orang tua. Bagaimana jalan menuju masa depanku mau lancar, kalau orang tua nggak mengizinkan.-- dan kalimat ini seperti keluar loncat dari diri saya begitu saja, karena memang itu yang saya rasakan selama ini.

Aku sekedar menjalani apa yang Ibu pilihkan untukku--dan ini yang saya jalani selama ini sampai pada akhirnya terbawa terus dalam hidup saya.

Saya gak bisa bilang, belum bisa lebih tepatnya menganggap bahwa menuruti orang tua saya sampai detik ini, akan membuat saya mengalami yang namanya 'diam di tempat'. Mungkin memang saya beberapa langkah di belakang orang-orang di sekeliling saya. Dalam hal apapun itu yang sudah dibikin standarisasinya dari jaman nenek moyang...lagi-lagi, Indonesian..

Saya bukannya gak mau untuk keluar dari zona ini, tapi saya yakin akan ada saatnya nanti dimana mental dan batin saya memang sudah dipersiapkan untuk segera keluar dari zona ini. Toh saya ikutin semua selama ini karena menurut orang tua itu terbaik kok. Mana ada orang tua yang mau jatuhin anaknya ke dasar jurang? Setidak sempurnanya orang tua, pasti akan ada jalan untuk memperbaiki semua.



Ada beberapa bahasan lagi di buku GitaSav. to be continued..






Share:

Minggu, 03 September 2017

Life (bagian 2)

Namanya hidup itu pasti berliku. Banyak ujiannya, dari Sabang-Merauke, dari A-Z, adaaaa aja.
Kalo gak berliku kayaknya gak mungkin yah..

Makanya dulu itu pernah denger omongan, kalo orang yang gak punya masalah itu orang yang mati. Namanya orang hidup pasti ada ujian atau masalah..

Fase hidup. Allah gak menciptakan makhluknya selemah pikiran kita. Saya pikir-pikir sih gitu. Kenapa? Malah dengan dikasih ujian atau masalah itu harusnya bikin kita belajar dan semakin kuat buat ke depannya.

Contoh..ada saat dimana waktu itu saya menerima dengan terbuka kekurangan seseorang. Anggaplah saya waktu iti menjalani hubungan pacaran dengan lawan jenis, yang pertama kalinya saya akhirnya tahu apa itu berkorban, apa itu peduli, apa itu simpati dan sebagainya.

Dengan seseorang ini saya baru tahu cara dan rasanya menutupi kekurangan orang lain dengan cara melengkapi. Sayangnya, dia memang orang pertama yang bisa bikin saya seperti itu tapi bukan orang terakhir. Karena ternyata dia berjodoh dengan orang lain..

Itu..bisa digaris bawahi?

Ujian saya saat itu adalah diberi kesempatan untuk bisa melengkapi kekurangan orang lain dengan ikhlas--dimana sebelumnya belum pernah demikian--lalu tiba-tiba dihempaskan dengan akhirnya kami gak bisa sama-sama..

Peeeenuh drama. Yes! Absolutely.

Lucunya, kejadian yang udah berlalu sekitar 4 tahun yang lalu, secara tiba-tiba hari ini cerita ulang dan bikin saya agak nyesek, bahkan hampir berlinang air mata.

Saya sedih, mungkin saat saya mengkorelasikannya dengan keadaan saya saat ini.

Tapi lagi-lagi, itu menunjukkan kalau saya kurang bersyukur, padahal masih ada orang tua yang InshaAllah akan selalu mensupport dan menemani sampai akhir hayat.

Banyak orang diluar sana yang mungkin gak seberuntung saya, contoh adanya itu adik sepupu kakak ipar saya. Ya, kalo kita lihat ke atas terus yaaa gak akan ada habisnya, sesekali kita memang harus lihat kebawah supaya gak lupa caranya bersyukur.

Sembari terus komat-kamit berdoa supaya Allah cepet jawab semua yang sudah diminta dan diijabah..
Share:

Kamis, 03 Agustus 2017

Baik di Mata siapa?

Tiba-tiba malam ini saya teringat beberapa waktu silam. Saat saya belum menutup aurat saya dengan berhijab. Saya berhijab sekitar pertengahan 2014. Alhamdulillah..meskipun belum sempurna tetapi jalan menuju ridho Allah sudah dititi sedikit demi sedikit, daripada tidak sama sekali :)

Seperti kebanyakkan orang, saya sudah berkeinginan untuk berhijab dari lama. Bersyukurnya saya karena lingkungan saya saat itu sudah banyak sekali teman-teman perempuan yang berhijab terlebih dulu. Nggak sedikit dari mereka yang suka kasih nasehat-nasehat tentang kewajiban muslimah salah satunya yang harus berhijab.

Gimana ceritanya tiba-tiba bisa langsung pakai hijab?

Ya nggak ada ceritanya. Waktu itu pas masih kuliah S2, ya udah tiba-tiba aja ke kampus dengan penampilan yang 'baru'.

To be honest, sebelum saya berhijab, saya selalu pakai pakaian yang panjang, tertutup. Saya hampir tidak pernah pakai baju lengan pendek meskipun itu masih diatas siku sedikit. Saya selalu pakai jaket, atau sweater atau cardigan..

Satu hal yang saya yakini saat itu, ada beberapa momen yang akhirnya menyadarkan saya untuk saya segera menutup aurat..

Waktu di luaran sana, saya tidak jarang menjadi obyek penglihatan lawan jenis.. (padahal saya nggak cantik, saya nggak bohai, saya nggak punya lekukan2 cewek seksi). Disitu, saya merasa risih. Kok dengan enaknya ya mata-mata mereka ini jelalatan, pikir saya waktu itu..

Hal lain adalah waktu saya didekati salah seorang senior waktu kuliah. Dengan 'jurus-jurus' pendekatannya yang Alhamdulillah waktu itu tidak tembus ke benteng pertahanan saya, hehehe..saya bisa menolak kehadirannya dalam hidup saya. Mungkin ini juga salah satu pertolongan Allah untuk saya agar tidak jatuh ke hal-hal yang buruk, yang tidak baik untuk saya.

Waktu itu saya iseng, upload foto dengan hijab (sebelum saya benar2 berhijab). Biasanya..biasanya ya, orang kalo lihat seseorang menuju jalan lebih baik (contoh disini adalah berhijab) pasti mereka bakal senang, mensupport, dan ikut bahagia.

Anehnya orang itu malah bersikeras bilang "aku kok nggak suka ya liat kamu pake hijab? Jelek ah."

Oke. Memang selera dan pandangan orang berbeda. Mungkin memang saya terlihat cantik dengan rambut terurai atau saya terlihat lebih anggun dengan hijab..semua punya persepsi masing-masing. Tetapi, menurut saya, orang yang paham agama pasti akan menuntun sesama manusianya untuk ke arah lebih baik.

Nah. Itu sudah salah satu petunjuk, kalo senior saya itu ya memang kurang baik :))

Jadi saya berpikir, mau mencoba baik di mata manusia atau di mata Allah yang menciptakan saya?

Mungkin sebagian orang haus pujian, masih ingin tetap eksis dengan penampilannya supaya dipuji sesamanya, tapi bukannya diberi pujian dari Allah itu .....segalanya?

Semenjak itu saya semakin kuat dan yakin untuk segera menutup aurat saya..

Dulu saya pernah bilang, "Ah aku make hijab habis nikah aja..pas udah bersuami."

Eh, sekarang malah kebalikannya, pengen dapet suami yang belum pernah lihat saya tanpa hijab, sekalipun.. :p

Jadi, Allah itu Maha pengatur yang baik..percayakan aja sama the one and only Allah SWT :)
Share:

Sabtu, 29 Juli 2017

Life (bagian 1)

'Hidup kita gak harus sama kayak orang lain.' - GitaSav

Sebagai manusia biasa ada kalanya saya mau apa yang orang lain punya. Di usia saya yang sekarang, bukan materi atau apa yang bisa diukur apapun itu, tetapi lebih kepada hidup..

Di fase kehidupan saya sekarang, terlebih di zaman sekarang, sudah banyak perempuan seusia saya bahkan yang usianya jaaauh di bawah saya, sudah berani berkomitmen dalam sebuah pernikahan dan punya anak.

Di fase kehidupan saya sekarang, beberapa teman mungkin sudah dalam zona nyamannya dalam pekerjaan, pekerjaan yang diimpikan, pekerjaan yang sudah tetap.

Di fase kehidupan saya sekarang dan berbagai macam lainnya..

Random? Oke. Memang.

Namanya manusia, ada kalanya kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Itu manusiawi kok. Asal..ada syaratnya, membandingkan hidup kita dengan apa yang sudah dicapai orang lain itu harus dijadikan motivasi. Jangan suka membandingkan lantas kita bisanya nyinyir. Nah! Ini problem zaman sekarang..

Inget lagi kata-katanya GitaSav kalau hidup kita itu nggak harus sama dengan yang lain..kita punya jalan sendiri, Tuhan menuliskan takdir manusia berbeda. Mau berbeda? Ya berusaha untuk mengubahnya tentu ke arah lebih baik..

Saya, sekali lagi, adalah manusia biasa yang terkadang kalau mellow suka banget ngeliat temen yang sekarang udah sukses, mencapai apa yang sudah di standarisasi kebanyakkan orang di Indo..

Lantas saya berpikir lagi, kenapa harus ada standar itu? Kenapa kita mesti ikutin standar itu? Apa semua harus sesuai standar? Namanya hidup ya. Jalan lurus-lurus aja sih gak mungkin ya. Pasti ada beloknya, terjal nya, turun nya, naik nya..

Itu kenapa kita sebaiknya gak perlu nyama-nyamain hidup kita sama orang lain..

Zona waktu aja bisa beda, apalagi zona waktu kehidupan tiap orang..

Ya.. sekali lagi, to be honest, saya bisa bicara seperti saat ini saya bisa membuka pikiran, tidak mengkotakkan pikiran, berusaha positif thinking. Lain ceritanya kalau saya lagi down dan mellow.

Itu wajar sis-bro. Tetapi, untuk memagari diri kita supaya tidak jatuh terlalu dalam adalah meningkatkan Iman kita pada Sang Pencipta..


Share:

cuap-cuap tentang wattpad (bagian 2)

Hampir satu bulan lebih tiba-tiba saja rasa bosan melanda saya untuk memainkan akun wattpad. Khususnya 'anak-anak' saya yang sudah di publish ke dalam aplikasi novel online tersebut.

Jangankan menulis, membaca saja saya tidak sedang dalam mood yang oke.

saya bukan salah satu penulis yang bisa membuat jadwal pasti untuk update menuliskan sesuatu yang baru ke dalam cerita saya. karena, pertama, saya punya pekerjaan lain selain menulis (itu hobi gengsss..) dan yang kedua karena ide itu tidak bisa dipaksakan. 

yang saya khawatirkan ketika saya memaksakan menulis sesuatu malah nanti jatuhnya jelek. honestly, sebelum publish cerita saya bisa review dulu 7-8 kali sebelum benar-benar fix. kalau dirasa masih belum pas, saya lebih memilih menunda untuk publish. (yes, saya se-perfect itu.)

ada keinginan nggak buat cetak buku?

ADA, BANGET.

tapi niat dan kemauan masih jauh dari 100%..

selain saya punya prioritas pekerjaan utama saya. ya, seharusnya saya nggak pakai itu untuk alasan.. tapi gimana ya? susah sih..

sudah dua kali, saya ditawari oleh penerbit indie yang tertarik dengan cerita-cerita saya, tapi dengan penyesalan, saya harus menolak karena tidak ada waktu untuk melakukan revisi sana-sini..maklum, penulis baru masih banyak salah-salah..

bahkan ada kesempatan untuk ikut kompetisi pun saya belum bisa..

sesungguhnya..tahun ini saya punya pekerjaan, punya ujian yang luar biasa..

cukup saya dan Allah yang tahu bagaimana dan apa yang saya rasakan..

tahun ini, saya benar-benar harus semakin introspeksi diri supaya tidak mengalami kemunduran kualitas diri..

semoga saja beberapa waktu ke depan hobi saya menulis kembali lagi..

baru aja, saya update untuk epilog cerita pertama saya, dan alhamdulillah semua suka!

dulu.. jangankan berharap ada yang komentar, bahkan saya nggak peduli ada yang baca atau nggak.. karena awalnya wattpad itu seperti buku diary untuk saya, seperti kanvas tempat saya menuangkan segala ide, fantasi dan mimpi saya....

dan sekarang? alhamdulillah, banyak yang baca, vote dan komentar..

buat yang mau merambah wattpad, diasah terus kemampuannya yaa, jangan terlalu berharao vote atau komentar yang penting perbaiki kualitas menulis.. sama jangan lupa banyak membaca! karena membaca itu bisa dapet banyakk informasi..hehehe
Share:

Mimpi Jadi Nyata (bagian 2)

Tanggal 28 februari 2017 akhirnya saya berangkat juga menuju tanah suci.. Alhamdulillah luar biasa!! Itu yang saya rasakan, bagai mimpi di siang bolong. Mungkin saya norak pake banget ya! Belum pernah ke luar negeri, baru umroh pertama kali, tapi emang gitu kok rasanya :))

Perjalanan langsung dari Sub-Med. Almost 12 hours! Karena harus transit di Aceh buat ngisi avtur. Sewajarnya ya, perjalanan selama itu dan kerjaan cuma duduk, semestinya capek, tapi saking senengnya jadi nggak kerasa.

Jujur, keinginan saya umroh yang akhirnya terlaksana ini sangat-amat saya inginkan. Saya seperti sebisa mungkin memburu waktu, entah kenapa dan alasannya pun saya tidak bisa menyebutkan, hanya saja hati kecil saya bilang kalau saya mesti segera kesana, memohon ampun, meminta dan memanjatkan doa di tempat-tempat yang istijabah.

Sampai di airport Madinah, waktu cek imigrasi yang.....MashaAllah, banyak yang bening-bening kak! (Lol) But, seriously, orang-orang luar yang pada ngantri, laki-laki Turki dan bangsa lainnya, mirip yang main drama-drama itulah pokoknya :') cukup lama ngantri untuk cek imigrasi ini, hampir setengah jam saking banyak antriannya, Alhamdulillah, saya, mama dan adik lolos dengan lancar. Ya..niatnya kan emang ibadah bukan yang macem-macem, heheh.

Sampai turun menuju tempat yang bentukannya seperti lobi, yang disana udah jual macem-macem makanan kaya Mcd, tapi nggak nafsu ya udah beli-beli makan secara di dalem pesawat dikasih makan 3x plus camilan (otomatis saya ikut menggendut selama seminggu itu).

Kemudian kami disambut sama orang Arab asli perwakilan dari travel cabang disana.

Setelahnya rombongan digiring menuju bis sambil mengkoordinasi koper-koper para jamaah. Cukup lama menunggu bagasi, di sisi lain, saya menghabiskan waktu dengan mengagumi lingkungan bandara yang tertata rapi dan cukup teratur, mobil-mobil mewah yang terparkir rapi.

Btw, disana mayoritas mobil warna putih ya, warna hitam jarang, ada sih beberapa tapi nggak sebanyak warna putih. (info penting, haha)

Selanjutnya, kami sampai di tempat istirahat, di hotel, waktu itu saya dan keluarga dapat lantai 6 dan selama di hotel--di Madinah dan di Mekkah--nggak pernah pake AC! Di Madinah waktu itu cuaca kalau Subuhan bisa sampai 16 derajat kakak-kakak :') dengan percaya dirinya waktu itu sempet sholat cuma make gamis biasa tanpa jaket atau apapun buat tambahan kehangatan..Yha!

Mandi, ganti baju bersih, ambil wudhu nggak lupa langsung kejar sholat Isya disana, selesai, kita berburu air zam-zam, keren ya, disana di tiap titik ada air zam-zam, mana dingin pula. Curi foto-foto sedikit barang 3-4 jepret, langsung kembali ke hotel dan makan!

Makanan di Madinah, lumayan cocok dengan lidah, mungkin karena kokinya ada orang Indonesia, lain halnya sama di Mekkah. Setelah makan malam, langsung menuju kamar dan istirahat, karena agenda besoknya kita akan berkunjung ke Roudoh. Salah satu tempat yang istijabah di Masjid Nabawi..




to be continued..
Share:

Sabtu, 18 Maret 2017

Mimpi Jadi Nyata (bagian 1)

Rasanya mimpi yang jadi kenyataan itu....Alhamdulillah tiada tara yah! Sebagai manusia biasa, pasti keinginan untuk ini dan itu adalah suatu hal yang ya..manusiawi, asalkan tidak berlebihan yaa..karena sesuatu yang berlebihan itu nggak baik.

Dari kecil, dari yang masih sok keren, sok banyak ngomongnya, suka ngomong

"Ma, ajak aku umroh dong."
"Ma, aku pengen umroh kayak tante, om, temen-temenku juga ada kecil udah umroh,,"
"Ma, kapan ya aku bisa pergi umroh?"

yang padahal, saya waktu itu nggak ngerti umroh itu ngapain...

Urusan agama, bagaimana baiknya kita beribadah, baiknya kita bersedekah dan lain-lain adalah urusan kita dengan Tuhan masing-masing, antara saya dan Allah SWT. Saya memang belum sempurna sebagai muslimah, tapi leganya saya, InshaAllah sedikit demi sedikit belajar untuk ke arah yang lebih baik. Memperbaiki diri itu penting, guna mempertemukan kita dengan orang-orang yang punya maksud baik juga, lagi-lagi semua dikembalikan karena Allah.

Saya terus terang baru saja memutuskan berhijab dari 3 tahun yang lalu, ya meskipun terhitung baru, Alhamdulillah.. Saya sudah diberikan hidayah tersebut dari Allah, meskipun...yang sebenarnya adalah kita sebagai umat muslim yang namanya hidayah itu harus dijemput, bukan ditunggu, itu sih kata orang-orang dan saya membenarkan hal itu. Saya rasa kalau pada tahun 2014 kemarin saya tidak memaksakan diri untuk mengenakan hijab, mungkin sampai saat ini saya belum berhijab.. Ada masa-masa lucu dimana saya membayangkan dan berfantasi

"Nanti suamiku itu orang yang belum pernah bahkan sekali pun liat aku tanpa hijab."

ya.. meskipun sampai sekarang masih belum tahu, siapa sih sosoknya? hehe, berdoa terus-menerus, InshaAllah, sebentar lagi, tahun ini, yakin, aamiin.

Rencana Allah itu memang lebih indah dari bayangan kita semua..ini juga harus yakin. Beranjak dewasa--I'm sure that I'm big enough, now..--keinginan untuk bisa pergi ke Tanah Suci, Baitullah, semakin besar. Dari 2016 saya terus merengek sama Allah dan tentu ke orang tua, karena payahnya saya masih belum mampu membiayai diri sendiri untuk pergi umroh, tapi halangan-halangan itu terus muncul. Tahun lalu, masih sibuk-sibuknya orang tua dan saya yang secara sengaja memang diterjunkan ke dalam bisnis kontraktor pekerjaan wirausaha orang tua saya. Di tengah-tengah hiruk pikuk pekerjaan yang mana itu hal duniawi, saya masih terus berjuang dengan merengek untuk bisa pergi umroh..Sampai saya bersikeras ingin berangkat sendiri, karena melihat orang-orang di sekeliling saya masih sibuk, tetapi sekali lagi belum ada izinNya.

Rejeki itu memang tidak bakal lari kemana-mana, dengan persiapan minim dan cukup mendadak kurang dari 1 bulan, keinginan saya untuk berangkat akhirnya di approve oleh Allah SWT yang mana disambungkan melalui kedua orang tua saya. Saya bisa berangkat bertiga bersama Ibu dan adik saya. Persiapan kurang dari 1 bulan, dilancarkan oleh Allah..

Hmm.. hal apa lagi yang perlu diragukan atas Kuasa Allah? Tidak ada.

Kalau memang sudah jalannya, selama kita selalu berusaha dan meminta yang terbaik, InshaAllah dikabulkan.

next part....soon!

Share:

Selasa, 27 Desember 2016

cuap-cuap tentang wattpad (bagian 1)

Saya tidak pernah bosan membicarakan aplikasi online yang satu ini. Meskipun sudah 2 tahun lamanya saya bergabung, sampai detik ini saya masih suka menggunakannya dengan penuh semangat. Mungkin memang pada kenyataannya saya suka menulis..

Oh ya, saya terhitung newbie ya di aplikasi tersebut dan juga baru-baru ini saja cerita saya dilirik oleh para readers pengguna wattpad Indonesia. Rasanya sangat senang, banyak yang mampir, memberikan vote, komentar pun yang saya sangat semangat membalasnya--meskipun terkadang banyak yang tidak bisa terbalas karena suka tenggelam.

Sampai satu waktu ya, bahkan ada yang mem-PM saya, dia cerita saking sukanya dengan cerita yang saya tulis, dia sampai membuatkan cover untuk cerita saya tersebut. Mungkin bagi pengguna wattpad senior ini merupakan hal yang biasa, tetapi bagi saya ini merupakan bentuk apresiasi dan feedback yang positif.

Kebanyakkan orang ada yang suka membaca, tidak suka menulis. Tetapi sebagian besar orang yang suka menulis pasti suka membaca, karena tulisan yang mereka ingin buat tidak mungkin mereka tidak membacanya ulang. Lagi-lagi untuk mendapatkan perhatian dari para pembaca.

Saya punya impian, entah akan terkabul atau tidak, orang zaman dulu sering berkata "bermimpilah setinggi langit." maka itu yang saya lakukan. Ingin rasanya menerbitkan sebuah novel dari karya yang telah saya buat di akun wattpad saya, apa ini akan terjadi? atau hanya akan menjadi terbitan pribadi saya saja?

we'll see.. :D
Share:

Kamis, 24 November 2016

Malam. Hujan. Cokelat Panas

25 tahun, 11 bulan, 24 hari.

Keadaan masih sama. Belum berpasangan apalagi beranak, hehe

Malam ini kota kelahiran saya hujan, sedari sore sebenarnya, bulan-bulan ini memang benar kalau musim hujan, tapi kadang suka nggak jelas gitu sih, bisa panaaaaaas banget tiba-tiba dingin, atau sebaliknya.

Cokelat panas? hmmmm.. nggak ada kombinasi yang lebih pas lagi kan dari itu? Ada sih, pendamping hidup..
Senangnya masih punya beberapa sachet cadbury cokelat panas, setidaknya menggantikan posisi sementara sang penamping hidup untuk tahun ini. Tahun depan siapa yang tahu? InshaAllah, aamiin..

Bagi saya sekarang, menulis adalah healer. Healing bagi saya yang tergolong moody, dan makin berumur makin sensitif, bukan baper yaaaa.. Bedakan.
Cranky? Iya. Grumpy? A lil bit.

By the way, angka paling atas itu udah ngerti kan maksudnya apa?

Maksudnya siapapun yang mampir di blog ini biar nyiapin kado gitu. Kalau bisa kado pendamping hidup ya, biar ulang tahun nggak sendiri terus, terus rencana menyempurnakan ibadah di awal tahun terlaksana. Ya.. siapapun bisa mampir di blog saya, termasuk malaikat yang mungkin lagi mencatat apa yang saya inginkan. aamiin.

Oh ya, konten dari blog ini mungkin belum beresensi bagi orang lain ya, karena kebanyakkan curhat, tapi kalau nggak sengaja ternyata berguna ya Alhamdulillah.

Hari ini saya mencoba peruntungan mendaftar freelance salah satu wedding organizer. Nggak ada salahnya juga menambah pengalaman dan komunitas. Terlebih saya ini anak rumahan banget. Kerja dirumah, nyantai juga dirumah. Pekerjaan calon kontraktor perempuan seperti saya ini banyak menghabiskan waktu dirumah. Padahal cita-cita pergi ke lapangan itu setinggi langit. Lagi-lagi faktor gender..

Project control sejauh ini yang saya lakukan memantau barang/bahan yang akan dipasang. Kebetulan pekerjaan tahun ini rehabilitasi semua, alhamdulillah..

Karena pekerjaan calon kontraktor yang belum padat seperti kontraktor asli itu sendiri alias Bapak saya, jadi saya putuskan untuk mencoba freelance tersebut. Kebetulan teman SMP saya lebih dulu bergabung dengan WO tersebut sebagai marketing yang full timer. Sedari awal saya sudah tertarik mencoba hal yang baru itu, sampai hari ini pengumuman seleksi tiba--yang alhamdulillah saya lolos, teman saya itu langsung menghubungi saya..

"Kamu itu serius beneran ngelamar??"

Agak aneh sih. Kok kesannya itu kayak nggak mungkin saya mengikuti seleksi freelance seperti itu, saya balas dengan lantang,

"Lho, memang dikira bercanda kemarin-kemarin?"

"Iya.."

Hmm.. apa wajah saya tidak terlihat meyakinkan bergabung menjadi freelance suatu WO?

Entahlah, lihat saja nanti ya..

By the way, hari ini tiba-tiba baper.....

Udah gitu aja, laper ah!

Good night!
Share:

Pria asing itu (lagi)

Saya boleh berbagi cerita random sedikit ya tentang semalam. Ya, kira-kira sekitaran jam ini lah 9.00-9.30 pm. Saya lagi sendiri di dalam kamar dan bermain ponsel. Seingat saya, saya lagi konsentrasi dengan jawaban-jawaban di ask.fm dari salah satu blogger favorit saya. (yang kebetulan pernah mampir di blog saya sebelum ini, pasti tahu siapa blogger favorit saya).

Tiba-tiba saja, Pria asing yang pernah saya ceritakan di 2 blog sebelum ini, muncul kembali. Pria yang sama sekali belum pernah saya temui, yang tidak saya kenal, bahkan saya tidak tahu apa dia betul eksis di dunia nyata ini?

Semakin kesini saya semakin waspada dan mawas diri. Takut berharap lebih, saya hanya ingin harapan saya, saya tujukan untuk Allah semata. Saya takut yang muncul di pikiran saya itu hanya sebatas angan-angan dan harapan saya saja.

Saya telah berani mengungkapkan pernyataan kepada Allah SWT, bahwa saya minta didekatkan pada sesosok Pria asing ini jikalau memang dia benar ada wujud nyatanya, jikalau dia memang jodoh saya. Tetapi jika kebalikannya, saya meminta untuk dihapuskan bahkan dilupakan sesosok Pria itu dari pikiran atau angan-angan saya bahkan mimpi dalam tidur saya.

Tetapi sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengharapkan bahwa saya dan pria asing itu berjodoh, adalah suatu hal yang sedang saya perjuangkan untuk terkabul. Dikabulkan oleh Allah.

Semoga Allah segera memberi jawabannya ya.. aamiin,



Seperti apa gambaran tentang Pria asing itu semalam?

Jadi, dia muncul begitu saja. Dari yang saya yakini dia seperti berada di sebuah restoran di dalam gedung bertingkat. Itu karena dia duduk dipinggir jendela yang menampakkan pemandangan dari ketinggian yang entah berapa meter. Kemudian dia mengenakan jaket kulit berwarna hitam, t-shirt polos putih dan celana jeans yang warnanya senada dengan jaket. Rambutnya kali ini sedikit berantakkan namun masih rapi.

Dia setengah berdiri dari duduknya, kemudian tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi yang rapi. Entah Ia tertawa pada siapa, lagi-lagi sayadisuguhkan peristiwa dimana Ia tertawa bahagia entah pada siapa. Saat Pria asing ini muncul, saya selalu menjadi orang ketiga atau lebih, yang bisa melihatnya seperti seorang secret admirer.

Oh ya, saking kagetnya saya tiba-tiba dia muncul lagi di pikiran saya, seketika saya mencuit kalimat seperti ini: Someday when we're meet, I'll kill you with my gaze..seriously.

Saya seakan berjanji dan menantang diri saya sendiri melakukan hal itu nanti saat waktu itu benar terjadi, Tidak peduli bahwa kami tidak saling kenal. Whatever will be will be..

Share:

Minggu, 20 November 2016

Random Sunday

Seperti hari Minggu biasa, di rumah, sendiri, emang dasar jomblo, hehehe..
By the way, kemarin sempet baca artikel gitu, katanya penyakit maag yang menyebabkan salah satunya adalah jomblo alias nggak memiliki pasangan. Menurut psikologi katanya...

Kok kasihan? :(

Kelar pembahasan tentang jomblo.......

Jadi hari ini lumayan random banget kondisi badan. Pagi-pagi banget mules nggak karuan sampai pucet, sampai melilit lah, nyatanya saya cuma telat makan aja.. ya sudahlah, diambil hikmahnya saja. Terus siangnya, cerita yang saya publish di wattpad kebanjiran vote! Yeayy!!

Senengnya kalo cerita ada yang mengapresiasi, siapa tahu nanti bisa diterbitin? Lah ngarep.. hahaha

Cerita tentang tulisan di wattpad, sebenernya itu murni khayalan saya saja, jujur saya tipe orang yang senang berfantasi, bahkan dulu waktu sekolah saya sukaaaa sekali pelajaran bahasa Indonesia kalo diberi tugas mengarang. Jago! Asal nggak dibawa sampai kehidupan sehari-hari ya, jadi tukang ngarang..

Itulah, saya bersyukuuuuuuuur sekali menemukan aplikasi wattpad ini. Dimana saya bisa menyalurkan kedua hobi saya sekaligus, membaca dan menulis. 

Ummm.. I'm not a geeky person fyi, hahaha

Cuma seneng baca buku-buku tertentu, nulis juga cerita-cerita tertentu aja, cerita khayalan tetapi masih masuk akal. Di draft akun wattpad saya, masih ada beberapa cerita yang masih ditimang-timang untuk di publish.

Saya memang masih jauh dari penataan tulisan yang baik dan benar, tetapi hobi saya tersebut membuat saya menyalurkan seluruh ide dan pikiran yang tiba-tiba ingin dituangkan begitu saja dan aplikasi ini membantu sekali, ditambah lagi ada feedbacknya.

Meskipun masih kalah jauh dari cerita yang sudah diterbitkan, tapi tetep bangga lah ya. Nggak dalam sekejap mata langsung tiba-tiba ada yang vote atau komen. Awalnya bener karena iseng, nggak peduli apa ada yang mau baca atau nggak.

Coba ide bisnis bisa lancar kayak gitu, kenapa tiba-tiba bisnis?

Oke, daripada kepanjangan randomnya, lebih baik segera disudahi.

See you next time!
Share:

Selasa, 18 Oktober 2016

Mencari Inspirasi di Era Modern

Entah blog ini ada yang baca atau nggak, saya masih berkeinginan untuk mengeluarkan pendapat saya. Tentunya dan semoga saja positif bagi semuanya. Di jaman modern seperti ini, banyak sekali orang yang ternyata tersesat untuk mencari jati dirinya. Tidak usah yang remaja, bahkan yang tua pun banyak salah pergaulan.

Apa buktinya? Semakin banyak kasus kriminalitas di sekitar kita saat ini. Dunia sudah bukan tempat yang aman lagi untuk makhluk bumi.

Sejatinya, salah pergaulan bukanlah satu-satunya hal yang perlu di monitori, kurangnya kedekatan antar keluarga, lemahnya tiang agama per individu mungkin menjadi beberapa hal pemicunya.

Saya paling benar? Tidak, saya masih jauh dari kata paling benar maupun sempurna. Kesempurnaan dan kebenaran hanya milik Tuhan.

Asal jangan "Kalian semua suci, aku penuh dosa."

Jangan yaa.. #ifyouknowhatimean

Oh ya, yang terbaru adalah ramainya salah satu calon pemimpin pada pilkada tahun ini yang disebut-sebut membawa-bawa salah satu agama yang ada apa....begitu. Saya perlu tekankan dan garis bawahi bahwa saya disini tidak akan menyinggung apapun yang berhubungan dengan politik.

Pusing, guys. Saya memang sudah cukup umur untuk mengerti hal-hal berbau politik, tetapi saya memilih untuk tidak terlalu peduli.

Orang dewasa saja bisa seperti itu, apalagi anak remaja. Pencarian jati diri itu sungguh perlu, seakan-akan membentuk karakter diri yang memiliki prinsip.

Jangan jadi orang yang tidak berprinsip, nanti hidup susah, banyak kegundah gulana-an.

Bisa dibayangkan dong, seribet apa, sesusah apa mencari jati diri yang benar, untuk mencari inspirasi pun kita harus pintar memilih, if you noticed (apalagi di jaman sekarang) tipe orang copycat itu menjamur..

Sebenarnya bukan copycat yah, lebih kepada, sedikit-sedikit ditiru, sedikit-sedikit jadi panutan dan lain sebagainya.

Suatu hari, saya yang doyan membuka aplikasi youtube, menemukan blogger cantik yang masih kuliah di luar negeri, Usianya bahkan hanya terpaut satu tahun lebih muda dari saya. Awalnya saya melihat vlog-nya yang menceritakan suka dukanya selama kuliah di luar negeri. Dari caranya dia berbicara, dengan menggunakan logat 'lo-gue' nya itu, saya langsung tertarik. Bukan karena sok ke Jakarta-Jakarta an, tapi perkatannya itu mewakilkan seseorang yang realitstis terhadap sesuatu.

Bahkan waktu saya tunjukkan vlog itu ke Mama saya, beliau pun suka dengan gaya si blogger ini mengemukakan pendapat serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan tangkas langsung kepada intinya. Setelah itu saya mengikuti vlognya, bahkan saya membaca blognya.

Berangkat dari sana, saya mulai suka pendapat si blogger cantik ini, mulai dari pembicaraan tentang agama, social life, berbagi pengalaman hidup dan lainnya.

Realistis, ignorant dengan hal yang tidak essential serta pintar mengambil keputusan, mungkin itu yang bisa kalian lihat dari diri blogger ini (kalau belum tahu silahkan mampir ke: Gita Savitri Devi) dan semua tipe itu saya merasa kalau itu saya!

Paham nggak?

Jadi, sejauh ini, saya merasa terinspirasi sekali oleh adek Gita (sok tua ya..) yang jelas-jelas dia lebih muda dari saya, yang jelas saya pribadi juga tidak segan untuk belajar dari yang lebih muda selama itu positif dan masuk ke nalar saya.

Saya berharap, orang-orang seperti Gita Savitri Devi ini semakin banyak diluar sana, terutama di Indonesia, biar bisa menyebarkan pemikirannya yang positif ini, karena si Gita sekarang posisinya ada di luar negeri (dan sepertinya dia bakal menetap disana ya? dilihat dari jawaban-jawabannya sih..)

Oke segini dulu lah ulasan pengetahuan umumnya.

See you in the next blog!


Share:
Diberdayakan oleh Blogger.