Jumat, 22 Juni 2018

Jadi, kita bertemu kembali?

"Cukup susah aku mengingatmu. Karena kamu yang tiba-tiba datang sesuka hatimu, dimulai saat pertama kalinya kamu muncul di mimpiku.

Aku kira kamu adalah pengharapan besarku selama ini. Karena kemunculanmu itu membuatku mengerti sesosok makhluk yang kusebut selalu di setiap doaku.

Tahun demi tahun, kamu memang tidak melulu datang 'mengunjungi'ku. Ada kalanya disaat aku melamun sampai sesaat setelah aku mengadu padaNya.

Malam ini kamu kembali menyapaku. Datang dengan kharismamu, semakin ingin membuatku meminta padaNya agar bisa dipertemukan denganmu lebih sering.

Tepat pukul 00.00 kamu kembali menyapaku.

Semoga memang ini maksudNya mempertemukanku kembali denganmu, supaya aku tidak bosan terus-menerus 'merengek' padaNya untuk bisa dipertemukan lagi denganmu.

Bukan hanya dalam pikiran, mimpi dan lamunan, tapi juga di dunia nyata.."

Share:

Selasa, 15 Mei 2018

Menulis Itu Susah.

Dulu di awal, saya pernah menjadi sebagian dari mereka yang menganggap bahwa menulis itu mudah. Kira-kira dari bangku sekolah dasar, saya sudah suka yang namanya membaca dan menulis (terutama menulis ya.) Karena dulu tujuannya untuk menulis nggak ngerti untuk siapa, akhirnya ya semacam diary lah.

Sampai suatu saat saking imajinatifnya saya, saya bikin surat, teruntuk suami di masa datang dan surat itu disimpan sama Eyang Kakung di Malang sampai detik ini. Katanya mau dikasih langsung sama suami saya nanti, wkwk.

Skip.

Lanjut sampai sekarang, diwadahi aplikasi wattpad, jadi tahu susahnya menulis. Dari masalah typo, bahasa, EYD, sampai ke permintaan untuk bisa terus update.

Dudu, jangan ditanya, udah sering dikomentarin pembaca supaya kalau nulis kudu banyak, kudu sering update, pokoknya semaunya pembaca lah.

Waktu itu pernah sekilas baca bio dari penulis lain yang bilang kira-kira begini: saya nulis bukan untuk memuaskan pembaca kok, senang ya baca, gak suka ya tinggalin.

Itu sih prinsip saya dari awal terjun di wattpad. Jangankan komentar, vote aja saya nggak berharap kok bakalan ada yang ngevote, eh sekarang followers udah 14K aja hehe, alhamdulillah.

Saat penulis idenya lagi buntu itu memang yang paling susah. Ternyata cari ide itu memang harus keluar kandang dulu, pergi keluar kota 3 hari, udah muncul aja cerita baru. Langsung dua pula.

Buat yang suka nongkrong di wattpad saya, siap-siap ya..
Share:

Minggu, 17 Desember 2017

Zaman Now

Di zaman now, kalian udah ngerasain perubahan yang gimana sih dibandingkan zaman dulu?

Contoh gampangnya, kalau dulu anak-anak SD mainannya mainan tradisional, zaman sekarang mainannya gadget.Tapi jangan keburu negthink dulu lah.. justru di zaman sekarang apa-apa mudah, gampang diakses.

Contoh lagi nih, ada aplikasi ojek online yang bisa dijangkau kemanapun dan dimanapun. Coba ya dulu zaman kuliah udah ada, gak perlu deh cari-cari tebengan temen hahaha.

Kenyataannya gak cuma satu-dua hal yang saya amati berubah. Perilaku manusianya pun makin berubah drastis. Tinggal kita pinter-pinternya aja menyikapi sih.

Dulu ya, orang kalau belum kenal deket itu pasti mau basa-basi kan suka sungkan, karena ngerasa gak kenal nih. Justru sekarang, orang yang gak kenal deket banget tapi BERASA kenal—padahal kita gak ngerasa yah—makin menjadi.

Waktu itu, saya sempat pelatihan dikirim sama kantor, yang kebetulan pesertanya bapak-bapak dan ibu-ibu, saya termuda disana. Saya berkesempatan satu kamar dengan seorang ibu dosen yang juga pengusaha.

For me, untuk kenal menjadi dekat itu butuh waktu ya. Karena saya ini introvert yang paling anti basa-basi jadi biasanya kalau udah kenal say hi biasa, namamu siapa namaku siapa, ya udah.. kelar. Waktu itu pelatihan berlangsung satu minggu penuh, saya merasa gak kenal terlalu baik dengan ibu tersebut untuk menceritakan hal pribadi.

Karena saya masih menjaga attitude, berusaha bersikap sopan, akhirnya saya harus membohongi diri sendiri, mencoba tertawa dengan luwes, menjawab pertanyaan ibu tersebut dengan sabar—kapan selesainya—dan lain-lain. Honestly, kalau pertanyaannya tidak seputar pribadi, saya akan menjawab dengan lantang. Tapi kalau pertanyaan pribadi dari orang yang tidak terlalu kenal, who r u?

Cerita lain lagi, kali ini sama mbak-mbak di salah satu bank. Karena saking seringnya transaksi ya, bahkan Bapak saya pun kenal karena sering minta tolong antrian dsb. Ya..bisa dibilang sudah familiar dan cukup akrab. Tapi, tidak dalam tahap sedekat itu untuk bertanya pertanyaan pribadi, seperti:

“Kapan menikah?”, “Calonnya orang mana?”

For God sake. Bahkan orang tua saya yang setiap hari dirumah ketemu, nggak pernah nanya hal begitu. Karena apa? Karena menghargai pribadi saya!

Saya suka heran sama orang-orang yang seneng kepo pribadi orang lain. Kenapa sih? Seperti hidup orang lain itu menarik banget dari hidup sendiri buat dibicarain? Why oh why..

Hmm.. butuh riset gak? Hahaha

Sabar aja wis mbak.. magic yang harus saya ucap di dalam hati.

Kadang gini yah..kita gak ngerti lho sama apa yang bakal terjadi 3 bulan ke depan.

We’ll see..
Share:

Sabtu, 07 Oktober 2017

Bacaan Wattpad (bagian 1)

Ngeblog itu kalau nggak niat ya nggak bakal menghasilkan..

Sama kayak nulis wattpad sih, bagi saya.. haha

Kemarin, update 2 cerita yang sudah terabaikan sekian lama. Banyak komentar begini:

Sampai lupa ceritanya gimana..

Ngomongin masalah lupa nggaknya, gimana kalau itu jadi daya jual cerita dari saya? Anggep aja, dengan lupa ceritanya saking lama gak update, ya baca dari awal hehehe..

Anyway, kalau ada yang baca wattpad, coba deh baca cerita Putri Mahkota by Anthea Gillian kalau gak salah..

Cerita ini jujur aja membuat tingkat kedewasaan saya meningkat beberapa level. Bukan karena konten dewasanya, justru lebih kepada sikap dari dua pemeran utama dalam novel tersebut.

Pertama baca buku ini, saya langsung bisa mengambil alih peran pemeran wanitanya. Aneh kan? Merasa terhanyut waktu jadi Kaira..

Gani? Saya merasa Gani sebegitu dekatnya pada saya. Latar belakang ceritanya tentang Jawa Tengah, menjadi poin tambahan bagi saya.

Age gap? It's so me..

Tentang bagaimana dewasanya Gani, tapi juga bisa bertingkah anak kecil akrena cemburu di usianya yang ke 39 tahun. Dimana Kai begitu dewasa menghadapi Gani, padahal usia mereka terpaut 12 tahun. 

Ngerasa Kai ini.. saya banget di kehidupan sebelum bertemu Gani.

Di cerita ini gak tahu kenapa sangat mengajarkan saya tentang apa itu komitmen.

Membicarakan komitmen, mungkin termasuk hal yang sensitif bagi saya, secara pernah ada orang di masa lalu yang mengatakan bahwa saya ini tipe orang yang tidak akan pernah mengerti apa yang namanya komitmen.

Oke. Mungkin saya sudah melupakan sakit hati dibicarakan demikian, tapi saya tidak akan pernah lupa..

Segitu aja ya.. silahkan baca kalau penasaran.

Ps: username saya ganti (at)elkusuma.. kalau luang, monggo dibaca-baca cerita saua.
Share:

Selasa, 26 September 2017

Bacaan Bermanfaat (part 1)

Akhirnya coret-coret blog lagi setelah sekian lama..

Judul kali ini tentang 'Bacaan Bermanfaat', yang secara kebetulan disampaikan oleh saya yang notabennya bukan orang yang rajin baca. Suka sih..saya suka baca, tapi tulisan-tulisan tertentu yang memang menarik menurut saya ya.

Dalam sehari, sebisa mungkin saya sempatkan baca koran, entah cuma baca headline nya sekilas. Menurut saya yang pemalas kalo disuruh baca ini, baca itu bisa bikin kaya bener memang. Kaya wawasan pastinya. Tapi sayang ya, karena sekarang memang jaman udah canggih, apa-apa internet, malah orang-orang lebih peduli sama berita-berita yang beberapa kebanyakkan gak jelas asal-usulnya alias berita hoax yang gak bisa dipertanggungjawabkan.

Gini ya men-temen.. mending baca yang pasti-pasti aja gitu lho. Posisikan diri kita kembali ke jaman belum ada yang namanya internet. Tuh? Kita dulu pegang apa kalo gak cuma koran, majalah?

Jaman saya SD saya bacaannya komik (yaa, meskipun bukan buku yang banyak tulisannya, seenggaknya baca buku :p) Mama saya setiap akhir minggu selalu bawa majalah anak-anak, mulai majalah bobo, bocil. Beranjak SMP, suka baca majalah Gadis.. terus kalo lagi rajin, suka bikin kliping dari guntingan-guntingan berita yang ada di majalah itu. Bikin semacam mading mini di buku agenda punya sendiri. (Kangen juga ya..)

SMA mulai suka baca novel. Sebenernya dari SMP udah suka bacaan teenlit, tapi beranjak gede lebih suka bacaan macem Harry Potter sama Chicken Soup. Paling inher banget pas beli buku HarPot yang ke 5, itu buku setebel itu habis cuma sehari hahaha. Saking senengnya. Sampai dikira saya ini baca buku apaan serius amat, coba baca buku pelajaran kayak gitu juga ya :')

Tapi gini..membiasakan diri untuk membaca itu sulit, jadi menurut saya, selama ada bahan bacaan apapun kesukaan kita selain buku pelajaran, udaah lahap aja.

Minggu ini saya punya bacaan favorit.. dan ini buku yang saya PO pertama kalinya dalam hidup, karena saya bukan termasuk orang penyabar yang menunggu bahan bacaan dimana di toko buku sebenernya udah ada tinggal dateng-beli-terus baca. Saking saya mengidolakan si author ini, pengen lah ikutan POnya.

Rentang Kisah by Gita Savitri.

Mungkin juga ini buku pertama yang saya beli tentang biografi seseorang. Sebenernya bukan biografi banget sih, lebih tentang perjalanan hidup aja, yang manaaaaaaaa....secara kebetulan yang teramat hampir semua hahah, saya pun mengalami hal yang dialami Gita.

Banyak hal yang saya pelajari di dalam buku ini adalah tentang bagaimana Gita ini bereaksi, menanggapi, apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Jujur aja, meskipun saya lebih tua dari Gita, tetapi saya justru banyak mengerti dari apa yang udah Gita sharing dari buku tersebut.

Saking cocoknya saya dengan buku ini, saya akan menjadikannya sebagai reminder to myself. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Gita pada bukunya.

Banyak poin dari saya yang juga dialami Gita..

Setiap hari ada aja yang bisa bikin Ibu memarahiku. Entah karena nggak mengangkat telepon, telat bangun pagi untuk salat subuh dan siap-siap sekolah, ataupun membuatnya lama menunggu di depan sekolah karena aku nggak langsung keluar saat bel pulang....-- hal itu juga terjadi sama saya, hanya saja itu bukan Mama saya, tapi Papa.

Hal-hal kayak gitu bikin Ibu menjadi sosok yang aku takuti, bukan hormati--Ini juga saya rasakan..

Sebenarnya bisa aja aku yakin dengan pilihan sendiri dan nggak terlalu mendengarkan keinginan Ibuku. Namun, aku juga percaya kalau ridho Allah adalah ridho orang tua. Bagaimana jalan menuju masa depanku mau lancar, kalau orang tua nggak mengizinkan.-- dan kalimat ini seperti keluar loncat dari diri saya begitu saja, karena memang itu yang saya rasakan selama ini.

Aku sekedar menjalani apa yang Ibu pilihkan untukku--dan ini yang saya jalani selama ini sampai pada akhirnya terbawa terus dalam hidup saya.

Saya gak bisa bilang, belum bisa lebih tepatnya menganggap bahwa menuruti orang tua saya sampai detik ini, akan membuat saya mengalami yang namanya 'diam di tempat'. Mungkin memang saya beberapa langkah di belakang orang-orang di sekeliling saya. Dalam hal apapun itu yang sudah dibikin standarisasinya dari jaman nenek moyang...lagi-lagi, Indonesian..

Saya bukannya gak mau untuk keluar dari zona ini, tapi saya yakin akan ada saatnya nanti dimana mental dan batin saya memang sudah dipersiapkan untuk segera keluar dari zona ini. Toh saya ikutin semua selama ini karena menurut orang tua itu terbaik kok. Mana ada orang tua yang mau jatuhin anaknya ke dasar jurang? Setidak sempurnanya orang tua, pasti akan ada jalan untuk memperbaiki semua.



Ada beberapa bahasan lagi di buku GitaSav. to be continued..






Share:

Minggu, 03 September 2017

Life (bagian 2)

Namanya hidup itu pasti berliku. Banyak ujiannya, dari Sabang-Merauke, dari A-Z, adaaaa aja.
Kalo gak berliku kayaknya gak mungkin yah..

Makanya dulu itu pernah denger omongan, kalo orang yang gak punya masalah itu orang yang mati. Namanya orang hidup pasti ada ujian atau masalah..

Fase hidup. Allah gak menciptakan makhluknya selemah pikiran kita. Saya pikir-pikir sih gitu. Kenapa? Malah dengan dikasih ujian atau masalah itu harusnya bikin kita belajar dan semakin kuat buat ke depannya.

Contoh..ada saat dimana waktu itu saya menerima dengan terbuka kekurangan seseorang. Anggaplah saya waktu iti menjalani hubungan pacaran dengan lawan jenis, yang pertama kalinya saya akhirnya tahu apa itu berkorban, apa itu peduli, apa itu simpati dan sebagainya.

Dengan seseorang ini saya baru tahu cara dan rasanya menutupi kekurangan orang lain dengan cara melengkapi. Sayangnya, dia memang orang pertama yang bisa bikin saya seperti itu tapi bukan orang terakhir. Karena ternyata dia berjodoh dengan orang lain..

Itu..bisa digaris bawahi?

Ujian saya saat itu adalah diberi kesempatan untuk bisa melengkapi kekurangan orang lain dengan ikhlas--dimana sebelumnya belum pernah demikian--lalu tiba-tiba dihempaskan dengan akhirnya kami gak bisa sama-sama..

Peeeenuh drama. Yes! Absolutely.

Lucunya, kejadian yang udah berlalu sekitar 4 tahun yang lalu, secara tiba-tiba hari ini cerita ulang dan bikin saya agak nyesek, bahkan hampir berlinang air mata.

Saya sedih, mungkin saat saya mengkorelasikannya dengan keadaan saya saat ini.

Tapi lagi-lagi, itu menunjukkan kalau saya kurang bersyukur, padahal masih ada orang tua yang InshaAllah akan selalu mensupport dan menemani sampai akhir hayat.

Banyak orang diluar sana yang mungkin gak seberuntung saya, contoh adanya itu adik sepupu kakak ipar saya. Ya, kalo kita lihat ke atas terus yaaa gak akan ada habisnya, sesekali kita memang harus lihat kebawah supaya gak lupa caranya bersyukur.

Sembari terus komat-kamit berdoa supaya Allah cepet jawab semua yang sudah diminta dan diijabah..
Share:

Kamis, 03 Agustus 2017

Baik di Mata siapa?

Tiba-tiba malam ini saya teringat beberapa waktu silam. Saat saya belum menutup aurat saya dengan berhijab. Saya berhijab sekitar pertengahan 2014. Alhamdulillah..meskipun belum sempurna tetapi jalan menuju ridho Allah sudah dititi sedikit demi sedikit, daripada tidak sama sekali :)

Seperti kebanyakkan orang, saya sudah berkeinginan untuk berhijab dari lama. Bersyukurnya saya karena lingkungan saya saat itu sudah banyak sekali teman-teman perempuan yang berhijab terlebih dulu. Nggak sedikit dari mereka yang suka kasih nasehat-nasehat tentang kewajiban muslimah salah satunya yang harus berhijab.

Gimana ceritanya tiba-tiba bisa langsung pakai hijab?

Ya nggak ada ceritanya. Waktu itu pas masih kuliah S2, ya udah tiba-tiba aja ke kampus dengan penampilan yang 'baru'.

To be honest, sebelum saya berhijab, saya selalu pakai pakaian yang panjang, tertutup. Saya hampir tidak pernah pakai baju lengan pendek meskipun itu masih diatas siku sedikit. Saya selalu pakai jaket, atau sweater atau cardigan..

Satu hal yang saya yakini saat itu, ada beberapa momen yang akhirnya menyadarkan saya untuk saya segera menutup aurat..

Waktu di luaran sana, saya tidak jarang menjadi obyek penglihatan lawan jenis.. (padahal saya nggak cantik, saya nggak bohai, saya nggak punya lekukan2 cewek seksi). Disitu, saya merasa risih. Kok dengan enaknya ya mata-mata mereka ini jelalatan, pikir saya waktu itu..

Hal lain adalah waktu saya didekati salah seorang senior waktu kuliah. Dengan 'jurus-jurus' pendekatannya yang Alhamdulillah waktu itu tidak tembus ke benteng pertahanan saya, hehehe..saya bisa menolak kehadirannya dalam hidup saya. Mungkin ini juga salah satu pertolongan Allah untuk saya agar tidak jatuh ke hal-hal yang buruk, yang tidak baik untuk saya.

Waktu itu saya iseng, upload foto dengan hijab (sebelum saya benar2 berhijab). Biasanya..biasanya ya, orang kalo lihat seseorang menuju jalan lebih baik (contoh disini adalah berhijab) pasti mereka bakal senang, mensupport, dan ikut bahagia.

Anehnya orang itu malah bersikeras bilang "aku kok nggak suka ya liat kamu pake hijab? Jelek ah."

Oke. Memang selera dan pandangan orang berbeda. Mungkin memang saya terlihat cantik dengan rambut terurai atau saya terlihat lebih anggun dengan hijab..semua punya persepsi masing-masing. Tetapi, menurut saya, orang yang paham agama pasti akan menuntun sesama manusianya untuk ke arah lebih baik.

Nah. Itu sudah salah satu petunjuk, kalo senior saya itu ya memang kurang baik :))

Jadi saya berpikir, mau mencoba baik di mata manusia atau di mata Allah yang menciptakan saya?

Mungkin sebagian orang haus pujian, masih ingin tetap eksis dengan penampilannya supaya dipuji sesamanya, tapi bukannya diberi pujian dari Allah itu .....segalanya?

Semenjak itu saya semakin kuat dan yakin untuk segera menutup aurat saya..

Dulu saya pernah bilang, "Ah aku make hijab habis nikah aja..pas udah bersuami."

Eh, sekarang malah kebalikannya, pengen dapet suami yang belum pernah lihat saya tanpa hijab, sekalipun.. :p

Jadi, Allah itu Maha pengatur yang baik..percayakan aja sama the one and only Allah SWT :)
Share:
Diberdayakan oleh Blogger.